Di era media sosial, istilah Fear of Missing Out atau yang lebih dikenal dengan FOMO semakin sering terdengar. FOMO adalah perasaan cemas atau takut tertinggal sesuatu yang dianggap menarik, penting, atau sedang menjadi tren. Perasaan ini membuat seseorang ingin terus mengikuti apa yang dilakukan orang lain agar tidak merasa “ketinggalan zaman”.
Istilah Fear of Missing Out mulai dikenal luas pada awal tahun 2000-an. Salah satu tokoh yang mempopulerkannya adalah Patrick J. McGinnis, seorang penulis dan investor asal Amerika Serikat. Melalui tulisannya, ia menggambarkan FOMO sebagai kecemasan ketika seseorang merasa harus mengikuti berbagai pilihan dan kesempatan karena takut melewatkan sesuatu yang dianggap lebih baik.
Seiring berkembangnya media sosial, FOMO semakin menjadi fenomena global. Melihat teman berlibur, membeli barang baru, menikmati makanan viral, atau mencapai berbagai pencapaian sering kali membuat seseorang tanpa sadar membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Tidak semua yang tampak bahagia benar-benar tanpa masalah, dan tidak semua yang terlihat sederhana berarti kurang beruntung.
Ketika FOMO Membuat Hati Tidak Pernah Merasa Cukup
Salah satu dampak FOMO adalah munculnya rasa tidak puas terhadap apa yang dimiliki. Kita menjadi sibuk mengejar apa yang sedang tren, membeli sesuatu karena orang lain memilikinya, atau merasa tertinggal jika tidak mengikuti gaya hidup tertentu.
Akibatnya, hati menjadi mudah gelisah, sulit bersyukur, bahkan terkadang rela mengorbankan kondisi keuangan demi memenuhi keinginan sesaat.
Allah SWT mengingatkan:
“Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia…”
(QS. Thaha: 131)
Ayat ini mengajarkan agar kita tidak terus-menerus membandingkan nikmat yang dimiliki orang lain, karena setiap orang telah Allah tetapkan rezeki dan ujiannya masing-masing.
Bagaimana Jika FOMO Diubah Menjadi Semangat Kebaikan?
Sebenarnya, FOMO tidak selalu harus berdampak negatif. Perasaan “takut tertinggal” justru bisa diarahkan kepada sesuatu yang jauh lebih bernilai, yaitu takut tertinggal dalam berbuat kebaikan.
Bayangkan jika yang kita takutkan bukan terlambat mengikuti tren, tetapi terlambat shalat berjamaah, terlambat membaca Al-Qur’an, terlambat membantu orang lain, atau terlambat mengumpulkan amal untuk bekal akhirat.
Inilah FOMO yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim: semangat untuk tidak tertinggal dalam meraih ridha Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)
Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:
“Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka adalah orang-orang yang paling dahulu memperolehnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 61)
Dua ayat ini menjadi pengingat bahwa Islam mendorong umatnya untuk memiliki semangat berlomba-lomba, bukan dalam kemewahan atau popularitas, melainkan dalam amal saleh.
Jangan Sampai Ketinggalan Kesempatan Berbagi
Salah satu bentuk perlombaan dalam kebaikan yang bisa dilakukan setiap hari adalah berinfak. Tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Sebab yang Allah nilai bukan besarnya nominal, melainkan keikhlasan hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
(HR. Muslim)
Setiap rupiah yang diinfakkan dapat menjadi jalan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Mungkin hari ini kita membantu anak yatim mendapatkan pendidikan, membantu keluarga memenuhi kebutuhan pangan, atau meringankan beban saudara yang sedang tertimpa musibah.
Bisa jadi, di saat banyak orang berlomba mengikuti tren yang hanya bertahan sesaat, kita justru memilih berlomba mengumpulkan amal yang pahalanya terus mengalir hingga akhirat.
Yuk, FOMO dalam Kebaikan!
Tidak ada salahnya mengikuti perkembangan zaman. Namun, jangan sampai rasa takut ketinggalan tren membuat kita lupa mengejar sesuatu yang jauh lebih berharga.
Mari ubah FOMO menjadi semangat untuk berlomba dalam amal saleh, memperbanyak ibadah, dan menebar manfaat bagi sesama. Jangan sampai kita terlambat mengambil kesempatan untuk berbuat baik ketika Allah masih memberikan rezeki, kesehatan, dan waktu.
Yuk, sisihkan sebagian rezeki terbaik melalui infak. Karena mungkin yang paling layak kita takutkan bukanlah ketinggalan tren, melainkan ketinggalan kesempatan meraih pahala dan keberkahan dari Allah SWT. 🤍





