Setiap orang tentu ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Bekerja keras, membangun usaha, menabung, hingga mengejar berbagai impian adalah hal yang wajar dilakukan. Ketika rezeki semakin bertambah, kita merasa senang karena hasil usaha mulai terlihat. Namun, ada satu hal yang perlu dijaga: jangan sampai bertambahnya harta justru membuat hati semakin sulit untuk berbagi.
Dalam sejarah Islam, ada kisah tentang Qarun, seorang manusia yang memiliki kekayaan luar biasa banyaknya. Harta yang dimilikinya begitu melimpah hingga dikisahkan kunci-kunci tempat penyimpanan hartanya saja dipikul oleh banyak orang yang kuat. Melihat kekayaannya, banyak orang saat itu sampai kagum dan berharap memiliki kehidupan seperti dirinya.
Namun Qarun mulai merasa bahwa semua yang dimilikinya murni berasal dari kemampuan dan usahanya sendiri. Ia menjadi sombong, lupa bersyukur, dan enggan menggunakan hartanya di jalan yang benar. Padahal, segala yang kita miliki pada hakikatnya hanyalah titipan dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman tentang ucapan Qarun:
“Sesungguhnya aku diberi harta itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.”
(QS. Al-Qashash: 78)
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung pelajaran besar. Ketika seseorang merasa bahwa keberhasilannya hanya hasil dirinya sendiri, tanpa menyadari pertolongan Allah, tanpa mengingat peran orang lain, dan tanpa rasa syukur, di situlah kesombongan mulai tumbuh.
Kisah Qarun bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi tentang bagaimana seseorang memperlakukan hartanya. Sebab harta pada dasarnya bukan masalah. Yang menjadi ujian adalah apakah harta membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru membuat kita semakin cinta dunia dan berat untuk berbagi.
Rasulullah SAW juga mengingatkan:
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
(HR. Muslim)
Kadang kita merasa takut memberi karena khawatir harta menjadi berkurang. Kita berpikir, “Nanti saja kalau sudah lebih banyak.” Padahal sering kali bukan jumlah hartanya yang kurang, tetapi rasa cukup dalam hati yang belum hadir.
Hari ini mungkin ada orang yang kesulitan makan, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, atau keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya. Bisa jadi, apa yang menurut kita sedikit justru sangat berarti bagi mereka.
Jangan sampai harta hanya berhenti di tangan kita. Jadikan ia jalan menuju keberkahan. Yuk, sisihkan sebagian rezeki melalui infak. Karena harta yang disimpan belum tentu menemani kita selamanya, tetapi harta yang dibagikan dapat menjadi amal yang terus mengalir pahalanya.
Setiap orang tentu ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Bekerja keras, membangun usaha, menabung, hingga mengejar berbagai impian adalah hal yang wajar dilakukan. Ketika rezeki semakin bertambah, kita merasa senang karena hasil usaha mulai terlihat. Namun, ada satu hal yang perlu dijaga: jangan sampai bertambahnya harta justru membuat hati semakin sulit untuk berbagi.
Dalam sejarah Islam, ada kisah tentang Qarun, seorang manusia yang memiliki kekayaan luar biasa banyaknya. Harta yang dimilikinya begitu melimpah hingga dikisahkan kunci-kunci tempat penyimpanan hartanya saja dipikul oleh banyak orang yang kuat. Melihat kekayaannya, banyak orang saat itu sampai kagum dan berharap memiliki kehidupan seperti dirinya.
Namun Qarun mulai merasa bahwa semua yang dimilikinya murni berasal dari kemampuan dan usahanya sendiri. Ia menjadi sombong, lupa bersyukur, dan enggan menggunakan hartanya di jalan yang benar. Padahal, segala yang kita miliki pada hakikatnya hanyalah titipan dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman tentang ucapan Qarun:
“Sesungguhnya aku diberi harta itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.”
(QS. Al-Qashash: 78)
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung pelajaran besar. Ketika seseorang merasa bahwa keberhasilannya hanya hasil dirinya sendiri, tanpa menyadari pertolongan Allah, tanpa mengingat peran orang lain, dan tanpa rasa syukur, di situlah kesombongan mulai tumbuh.
Kisah Qarun bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi tentang bagaimana seseorang memperlakukan hartanya. Sebab harta pada dasarnya bukan masalah. Yang menjadi ujian adalah apakah harta membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru membuat kita semakin cinta dunia dan berat untuk berbagi.
Rasulullah SAW juga mengingatkan:
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
(HR. Muslim)
Kadang kita merasa takut memberi karena khawatir harta menjadi berkurang. Kita berpikir, “Nanti saja kalau sudah lebih banyak.” Padahal sering kali bukan jumlah hartanya yang kurang, tetapi rasa cukup dalam hati yang belum hadir.
Hari ini mungkin ada orang yang kesulitan makan, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, atau keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya. Bisa jadi, apa yang menurut kita sedikit justru sangat berarti bagi mereka.
Jangan sampai harta hanya berhenti di tangan kita. Jadikan ia jalan menuju keberkahan. Yuk, sisihkan sebagian rezeki melalui infak. Karena harta yang disimpan belum tentu menemani kita selamanya, tetapi harta yang dibagikan dapat menjadi amal yang terus mengalir pahalanya. 🤍





